Kemarin malam, setelah menonton serial drama Korea favorit di televisi, aku melihat suatu tayangan yang lebih mirip sebuah iklan layanan masyarakat, atau motivator mungkin. Dikatakan bahwa tidak ada kata "nanti" untuk mengungkapkan suatu perasaan. Dalam iklan itu digambarkan bahwa seorang anak yang terlalu gengsi untuk mengatakan sayang bahkan kepada ayahnya sendiri. Sampai pada akhirnya ayahnya pergi untuk selamanya. Dan ya, dia belum sempat mengatakannya.
Pipiku basah. Hantu-hantu di dalam pikiranku juga mulai bermunculan.
Kenapa aku tidak bisa membanggakan kedua orang tuaku?
Kenapa aku sangat susah untuk patuh terhadap kekhawatiran?
Kenapa aku tidak bisa menerima kekurangan?
Kenapa aku selalu merasa tidak terima terhadap masa lalu?
Kenapa aku selalu saja merepotkan dan menambah beban orang lain?
Aku bertanya-tanya, sesungguhnya ada kesalahan teknis apa yang melanda otak ini. Kenapa semuanya selalu terlihat salah.
Awalnya sih, aku berniat untuk tidak membagikan hal ini kepada siapapun. Aku tidak ingin merepotkan mereka-mereka dengan pikiranku yang absurd dan berantakan. Tapi, ya, kau tahu, aku tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain. Tidakkah itu terlalu manja? Aku merasa kasihan, sekaligus benci. Kenapa aku tidak dilahirkan sebagai orang lain saja? Menyedihkan.
No comments:
Post a Comment