Thursday, April 11, 2013

Sebuah percakapan bersama Ayah

Sabtu pagi kemarin, setelah aku belajar mengemudi, aku bertemu sepasang bapak-ibu yang aku rasa sudah cukup berumur, dengan seorang anaknya yang masih balita.
"adik ngajinya sampai mana?"
"ba ta ta a ba ta gitu, Yah."
"pinter..kalau gitu nanti Ayah belikan mainan, ya."
........
"lhoo Ayah dipeluk-peluk. Kangen, ya, sama Ayah?"
"iya aku kangen sama Ayah."
"nanti Ayah ajak ke toko mainan, setelah kita pulang dari sini. Ayah belikan mainan yang banyak. Sepuluh."
........
"Yah, ojo lali mengko langsung mulih wae. Gak usah tuku-tuku dhisik."
"iyo, Bu. Aku yo ora nduwe duit gawe tuku mainan."
........
Awalnya aku berpikir, ah, kapan aku bisa mengalami percakapan seperti itu bersama Ayah. Lalu aku tersadar. He may be sweet, but then I thought that he taught his children to be a liar. And I may not have all those sweetnesses. But my parents always take me into reality. It makes me grateful, also never hope too much on everything. Something too much can hurt you so much. The point is, I don't need another type of parents. I'm pretty sure that there's no parents that would make me happier than they do.

No comments:

Post a Comment