Wednesday, March 13, 2013

Tempat ini.


Maret, 2013.
Baru saja ku pijakkan kakiku ke permukaan tanah di tempat parkir ini, tapi rasanya aku sedang tidak baik-baik saja. Kupandangi sekeliling, seakan-akan keadaan membawaku ke hampir 2 tahun yang lalu.
***************
Mei, 2011.
Hari masih cukup pagi untuk kembali pulang ke rumah. Dimana pusat perbelanjaan dan teman-temannya masih enggan membuka diri. Aku ke sekolah terlalu pagi, rasanya. Dan sepertinya aku juga tidak perlu memaksakan diri untuk pergi ke sekolah. Setidaknya, aku bisa melihatmu dari kejauhan. Menyenangkan, bukan?
Di perjalanan menuju ke sekolah, aku melihatmu berjalan kaki dengan teman-temanmu, juga dengan beberapa temanku yang kebetulan dekat denganmu. Tertebak, kau pasti pergi ke gedung olahraga indoor itu. Karena aku tetap ingin memperjuangkan semuanya, maka aku putuskan untuk menontonmu bermain saja. Entah kalah atau menang, aku tidak peduli. Yang penting kan, aku berkesempatan untuk melihatmu.
Sesampainya di sana, terlebih dulu aku kirimkan pesan kepada seorang teman yang tadinya bersamamu.
"Hai, aku sudah di depan. Aku hanya ingin melihatnya bermain."
Tidak lama kemudian kuterima sebuah balasan.
"Kamu yakin, Za? Kau paham betul kan dia seperti apa? Aku tahu ini sulit, tapi dia bilang padaku bahwa dia akan meninggalkan permainan-begitu saja. Tepat saat kau melangkah di ambang pintu."
Tercabik-cabik. Sejak saat itu juga aku putuskan untuk tidak lagi tertarik dengan seseorang yang tidak bisa menghargai orang lain sebagaimana mestinya. Setidaknya, aku lebih professional dalam menjaga perasaanku sendiri, agar tidak sampai mengganggu kenyamanan orang lain. Semesta membiarkanku dalam diam, hanyut dalam perasaanku, terbang tinggi dengan anganku, dan terlelap dengan mimpiku. Kamu.
*****************
Dan sekarang aku kembali lagi. Namun aku sudah tidak lagi duduk di belakang kemudi dan sendiri. Rupanya sudah ada yang berhasil membawaku kembali ke tempat ini. Setelah 2 tahun mengurung diri dan menjauhkan diri dari segala hal tentangmu, kali ini aku sudah berhasil mengalahkan rasa itu. Rasa takut itu.
Tempat ini banyak berubah. Lapangan parkirnya sudah lebih tertata rapi dan ber-aspal. Tempat ini juga lebih ramai karena sering digunakan untuk berbagai turnamen. Aku datang lagi, namun tidak sendirian. Sudah ada yang menemaniku dalam keseharianku.
Tujuanku datang ke sini juga berbeda. Tapi, seiring dengan langkah kakiku di ambang pintu, aku menyadari adanya satu-satunya hal yang tidak bisa berubah sampai detik ini. Perasaanku.
Percayalah padaku, tidak ada seorang pun yang menginginkan berteman dengan kondisi seperti ini. Tidak juga kau.


Atria, 13 Maret 2013.

No comments:

Post a Comment