Aku benar-benar merasakannya. Ketika semuanya terasa lebih indah dari biasanya. Mungkin kalian bisa beranggap pikiranku picik. Tidak, nyatanya tidak pernah sedangkal itu. Kali ini aku yakin dalam menghapus semua keragu-raguanku. Kenapa tidak dari dulu? Jawabannya hanya satu. Dulu, aku tidak se-yakin ini.
Hari-hari juga berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang salah dengan situasi dan kondisi. Perasaanku yang berubah. Rasanya, seperti naik satu level. Semakin dan semakin menyenangkan.
Bukannya tidak terdapat luka-memang ada, kok. Beberapa tusukan pernah ditancapkan, dahulu. Sebagian dari mereka lupa mencabutnya. Dan mungkin juga hatiku tak mempunyai fibrin. Sudah tidak terasa ngilu, tapi, nanahnya masih menetes. Ada juga bekas yang paling parah. Dia memang mencabut tusukan itu, tapi, dia lupa akan lukaku yang masih menganga ini. Sampai aku mati rasa.
Sempat terpikir untuk menyimpan semua luka itu dan menutupnya untuk luka-luka yang lain. Bukan hanya terpikir, sih, bahkan sudah terlaksana untuk beberapa waktu. Namun ternyata aku salah. Pola pikir seperti itu sudah terlalu kekanak-kanakan untuk seorang yang berumur 16 tahun.
Terkadang kita memang tak bisa membunuh memori dan membuang luka tanpa bantuan orang lain. Diperlukan, kok. Sekarang lukaku sudah mulai menghilang, memori pun ikut terkubur bersamanya. Aku bahagia, karena sudah ada yang menjaga hatiku. Dia, pilihanku.
When I first met you, I didn't know you were gonna be this important to me...
No comments:
Post a Comment