Monday, April 18, 2011

melankoli jilid satu

kita berdua, duduk berhadapan dan tidak berbuat apa apa. Tanpa sepatah kata, tanpa suara. Kita hanya diam. Diam karena tak mampu melawan kebetulan semesta.

Sesungguhnya aku tak percaya dengan adanya kebetulan semesta itu. Apa sih? Semua itu terjadi karena rencana! Karena keinginan! Bukan kebetulan semata.

Satu, dua, tiga detik. Empat, lima, bahkan enam dimensi. Hingga dimensi ketujuh, semesta tetap menyatakan perbedaannya. Perbedaan yang membuat kita diam.

Disini, kita terpaku. Termenung. Menjelajah pikiran masing-masing. Saling menebak. Saling membaca pikiran.

Didepan cupcakes yang termenung, termenung melihat tingkah kita. Lucu. Hampa. Sunyi. Diam. Kunyatakan cupcakes cupcakes ini sebagai saksi kebisuan.

Aroma gula dari cupcakes memang menggugah. Tetapi tak cukup kuat untuk membangkitkan kita dari kebisuan ini. Mengapa?

Tak terasa setetes dua tetes air mengalir di pipi. Aku menangis! Aku menangis. Setelah tersadar bahwa kebisuan itu hanyalah mimpi belaka. Sekalipun hanya kebisuan.

No comments:

Post a Comment